Showing posts with label CURHAT. Show all posts
Showing posts with label CURHAT. Show all posts

Tuesday, 9 January 2018

Alhamdulillah untuk 2017, Bismillah untuk 2018

Tulisan ini adalah renungan pribadi saya untuk tahun 2017 yang sudah terlewati, apa-apa saja yang sudah dicapai, sudah dilakukan selama 365 hari kemarin. Harusnya dipublish pas tahun baru kemarin ya, tapi tak apa sedikit terlambat. Semoga di tahun 2018 ini lebih konsisten dan komit buat nulis disini ya hehe (Bismillah)


Momen penting di Bulan Februari, Alhamdulillah Akhirnya Wisuda!



Pencapaian terbesar di tahun 2017 adalah Wisuda Sarjana di Bulan Februari 2017. Alhamdulillah, setelah penantian lebih dari 3 bulan dari tanggal kelulusan akhirnya bisa ketemu pake kebaya ketemu Pak Rektor. Hehe

Wisuda memang hanya sebuah acara seremonial dan pasca wisuda justru dunia yang sesungghnya. Tapi, punya foto wisuda buat dipajang di dinding rumah adalah impian utama guna menangkal pertanyaan-pertanyaan nyinyir dari netizen, eh tetangga maksudnya hehe 







Kedua :  Belajar Parenting, ilmu baru yang nagih! 



Dari dulu sebenarnya memang tertarik untuk belajar ilmu tentang hubungan antar manusia, salah satunya hubungan orang tua dan anak, atau biasa disebut parenting. Awalnya hanya iseng baca-baca artikel dari website, majalah, buku, blog dan instagram. Mulai rajin ngikutin akun-akun instagram yang isinya tentang, referensi buku anak, pola pengasuhan anak, penyiapan makanan untuk anak seperti blw dan berbagai menu mpsi juga tentang motessori. Untuk referensi buku anak, salah satu akun instagram favoritku adalah Rabbit Hole. Kagum dengan sosok mbak Devi Raissa yang punya Rabbit Hole, Perempuan hebat yang senantiasa berkarya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya, sama banget kaya Uni Ria Miranda. Idola banget lah mereka mah! Oya, saking sukanya sampe saya beli buku-buku nya (meskipun belum punya anak ya hehe) dan gak pernah ketinggalan baca artikelnya.  Salah satu buku favorit saya adalah LIBURAN TERBAIK

Setelah sbelumnya cuman berani ‘belajar’ secara tidak langsung, akhirnya Bulan November 2017 pertama kali memberanikan diri ikut seminar parenting yang diadakan oleh Hijup. Semua peseta ibu-ibu, ini calon ibu udah kelewat semangat. Hehe. Bagian paling berkesan dari kegiatan hari ini adalah, bisa bertemu dengan Ibu Najelaa Shihab,pendidik dan penulis buku Keluarga Kita. Buku yang keren dan rekomended banget untuk dibaca oleh orang tua. Next akan saya review yang buku tersebut. 


Selangkah lebih dekat dengan Uni Ria Miranda, hehe :)


Iya, itu loh Ria Miranda desainer "pastel" kesayangan yang cantik, anggun dan sangat menginspirasi. Lewat instagram dan blog Ria Miranda Diary aku mulai ngikutin uni sejak 2016, agak telat memang ya hehe. Dari dulu pengen banget punya koleksi dari uni, tapi rasanya masih terlalu 'mahal' hehe (maklum anak kost). 

Uni itu sosok perempuan (istri dan ibu) yang keren banget, bisa berkarya dan tetap bisa menjalankan kodratnya secara baik. Ibu yang berkarya dengan tetap memegang teguh prinsip dan nilai-nilai Islam. 
Dan setiap karyanya selalu punya makna dan pesan yang dalam, bukan hanya sekedar desain tapi juga value di dalam nya. 



Alhamdulillah, udah 2 kali menang kuis jadi bisa punya koleksi-koleksi dari Uni, plus kesempatan nonton runaway di RMTS (Ria Miranda Trunk Show) 2018. Eh yang ini belum kesampean, karena satu dan lain hal jadi gak bisa dateng :( Semoga tahun ini ada kesempatan lagi, Aamiin


Festival Dongeng Internasional Indonesia


November 2017, masih diberikan kesempatan untuk bersenang-senang bersama adik-adik acara yang keren ini. Cerita pengalaman saya membacakan Dongeng dapat dibaca di FDII 2017 ya, hehe


Teman Baru, 1000 Guru Tangerang Selatan   

Tahun ini Alhamdulilah kesampaian ikut salah satu acara 1000 Guru, Teaching and Giving Spesial Ulang Tahun 1000 Guru Tangsel yang ke-2. 


Mbolang, pengalaman 'pertama' 

Karena saya adalah tipikal anak rumahan yang merantau karena kepepet, haha. Alhasil, meskipun udah merantau bertahun-tahun tetep aja kerjaannya cuman stay at kost wkwk. Nah di tahun ini, Alhamdulillah ada peningkatan untuk level keberanian dan kenekatan untuk pergi ke tempat baru, masih di Indonesia sih ya semoga tahun 2018 bisa keluar negeri ya Aamiin.

Pertama, Ke Jogjakarta  sendiri naik KA khusus hanya untuk kondangan orang tersayang di Klaten. Nyampe di Jogjanya dengan selamat, nah giliran pulang segala ada drama ketinggalan kereta yang akhirnya harus naik bus ‘yang nggak baget” dari Jogja ke Tangerang

Kedua, bolak-balik ke Bandung (eh ke Cimahi ding) naik KA Argo Parahyangan. Ini juga seru, segala ada drama kepagian di stasiun, salah turun stasiun, salah kereta, ketinggalan kereta dll. Hahaha Lumayan lah ya latihan untuk survive kalo nanti ke luar negeri haha

Ketiga, Ke Surabaya demi si cinta. Ke surabayanya sih udah sering ya, yang pertama itu naik Pesawatnya haha. Ini norak ya? Yaudah begitu adanya, dari dulu paling takut bange kalo disuruh naik Pesawat terbang. Duh mikirnya udah aneh-aneh, segala takut ketinggian, takut ujan ada petiir lah,takut ilang di bandara dll. Haha sungguh drama. Tapi Alhamdulillah, bisa melalui 1,5 jam penerbangan dengan slamat, ya meskipun selama di pesawat gak bisa diem, segala doa dan bacaan dibaca hehe. Next semoga tidak senorak ini ya.


Bismillah, tempat belajar baru


Alhamdulillah, setelah satu tahun belajar di dunia baru, dunia kerja yang sesuai dengan bidang kuliah. Akhirnya, di tahun ini saya mengambil salah satu keputusan besar untuk karir kedepan nanti.
Masih ingat tentang tulisan saya yg Passion. Dan di penghujung tahun 2017, Allah mengabulkan doa-doa yang selama ini dipanjatkan, Allah memilihkan tempat baru untuk mencari rezeki dan belajar.Agak jauh memang dari jalur yang selama 4,5 tahun + 1 tahun ini saya tekuni. Tapi, bukankan ilmu itu luas dan belajar itu tanpa batas, bismillah semoga lebih berkah dan membawa manfaat untuk banyak orang .

---

Alhamdulillah untuk apa yang sudah tercapai di 2017, yang belum masih banyak :( Semoga 2018, menjadi tahun yang lebih baik. 365 hari yang akan datang semoga bisa menjadikan saya pribadi yang senantiasa belajar memerbaiki diri setiap harinya. Semoga resolusi bukan hanya resolusi semata, tapi komitmen dan istiqomah nya semoga tetap terjaga. hehe Aamiin

Tuesday, 3 May 2016

Ibu – ‘Gate Keeper’ Keamanan Pangan Keluarga

Laporan tahunan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2011 menyebutkan bahwa penyebab KLB Keracunan Pangan terbesar di Indonesia adalah pangan olahan rumah tangga yaitu sebanyak 58 kejadian (45.31%). Sehingga kesadaran dan perilaku ibu rumah tangga sebagai gate keeper (penyaring informasi) dalam menjaga keamanan pangan keluarga menjadi sangat penting. Sebab resiko keamanan pangan terhadap kesehatan konsumen semakin tinggi ketika konsumen kurang memiliki pengetahuan tentang pengolahan pangan yang baik sehingga konsumen terbiasa dengan cara pengolahan pangan yang salah (Maimun 2013).
Paragraf tersebut adalah cuplikan latar belakang yang saya gunakan dalam penyusunan proposal penelitian tugas akhir sebagai syarat lulus bagi seorang sarjana. Memang terlihat sepele dan sedikit menyimpang dari ‘kebiasaan’ topik penelitian-penelitian yang biasanya dipilih oleh mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan. Saya memang telah mendapatkan semua teori tentang keamanan pangan dan seluk-beluk industri pangan lainnya. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah ilmu yang saya peroleh selama hampir empat tahun tersebut hanya sebatas teori saja bukan praktik langsung di masyarakat. Dan inilah liku-liku cerita yang akan mengiringi perjalanan panjang tugas akhir saya.
Minimnya pengalaman saya dalam penelitian di bidang sosial kemasyarakatan, serta keterbatasan dalam hal kemampuan bahasa Sunda membuat awal-awal perjalanan di Desa Puraseda terasa berat. Bagaimana tidak, satu-satunya pengalaman saya terjun langsung di masyarakat adalah ketika ‘menyelundup’ pada program KKN-P (Kuliah Kerja Nyata Profesi) dari Fakultas sebelah. Iya hanya menyelundup, karena di departemen (jurusan) saya memang tidak terdapat program KKN-P tersebut. Sedangkan untuk kemampuan Bahasa Sunda saya? Jangan ditanya.
Desa Puraseda Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Ada yang sudah pernah mendengarnya atau bahkan sudah pernah berkunjung kesana? Desa ini terletak di ‘pelosok’ Kecamatan Leuwiliang, yaitu dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam dari Kampus IPB Dramaga dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bentangan sawah yang menghijau, suara aliran sungai yang menenangkan, serta gunung-gunung yang berbaris rapih merupakan gambaran keindahan dari desa ini. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani dan tidak sedikit pemudanya yang mengadu nasib sebagai perantau di Ibu Kota. Sedangkan para ibu merupakan ibu rumah tangga biasa dengan rata-rata pendidikan hanya lulus Sekolah Dasar (SD).
Seminggu setelah kegiatan intervensi (penyuluhan) tentang Keamanan Pangan Keluarga, saya datang kembali untuk melaksanakan kegiatan monitoring atau fasilitasi. Dengan cara berkunjung dari satu rumah responen ke responden yang lain yang berjumlah tidak kurang dari 30 keluarga. Bertamu seperti biasa, melihat kegiatan para Ibu dalam menyiapkan makanan untuk keluarganya sembari mengobrol. Dan hal yang membuat saya tercengan adalah ketika saya bertanya :
“Gimana Teh, penyuluhan kemarin ada manfaatnya apa tidak? Apa yang disampein diterapin dirumah gak Teh?
Kebanyakan mereka menjawab seperti ini (tentu dalam bahasa Indonesia yang banyak bercampur dengan Bahasa Sunda).
“Sekarang Ibu teh udah gak beli telur yang retak lagi neng meskipun lebih murah, takut”, jawab salah seorang responden. Sedangkan responden yang lain menjawab seperti ini,
 ”Iya sekarang udah gak sayang-sayang lagi Neng buang makanan kalau itu udah kadaluarsa, Ibu lihat tanggalnya dulu”.
Ada juga yang menjawab seperti ini , “Saya udah nyiapin sabun cuci tangan di kamar mandi biar semua pada cuci tangan neng kalo habis buang air sama pas mau makan”.
Sederhana memang, tapi rasanya bahagia mendengar jawaban mereka. Bahagia karena ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk mereka. Bahagia karena saya merasa ikut andil memberi sedikit manfaat untuk orang lain, jadi ilmu yang saya dapatkan selama ini bukan hanya sekedar deretan huruf mutu di atas kertas transkrip saja. Lebih dari itu, ilmu akan berguna jika mampu memberi manfaat untuk banyak orang. 


(bersambung) 

Thursday, 31 March 2016

Drama-Queen Edisi Seminar Proposal


Kau harus mengalahkan banyak hal. Bukan musuh-musuhmu, tapi diri sendiri, menaklukkan monster yang ada di dirimu. Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain, dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertanyaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu, maka pertempuran lainnya akan mudah saja (Pulang – Tere Liye).
Penggalan paragraf dalam novel tersebut dirasa dapat mewakili drama hari ini, Senin 21 Maret 2016. Peristiwa bersejarah dalam serangkaian perjalanan panjang menuju sarjana. Seminar Proposal dengan judul : “Pengaruh Perbedaan Metode Intervensi Terhadap Keamanan Pangan Keluarga di Kabupaten Bogor”, menjadi salah satu pembuktian kemampuan di dunia per-ITP-an. Dunia yang terkadang tidak pernah mengenal kompromi, bahkan kawan dan lawan terlihat tanpa beda.
Mengalahkan ketakutan dan rasa tidak percaya akan kemampuan diri ternyata memang tidak mudah. Dan pada titik ini akhirnya aku tersadar, rasanya seperti petir Kota Bogor di siang bolong. Betapa tidak, aku yang selama ini hanya bermain aman dan terlalu terlena dalam zona nyaman akhirnya tersadar. Tersadar bahwa ketakutan itulah yang selama ini menghambatku. Membuatku terlalu memandang rendah pada diri sendiri dan selalu takut untuk mencoba.
Menjadi berbeda bukan berarti salah kan? Jika kemudian aku memberanikan diri mencoba hal baru juga bukan berarti aku salah kan? Iya, mencoba hal baru. Menjadi mahasiswa pangan yang kemudian lebih memilih jalur ilmu sosial untuk tugas akhirnya. Huh! Sungguh tidak mudah. Mungkin mereka akan mencibir, tapi inilah pilihan. Pilihan yang didasari oleh kecenderungan hati. Love what you do, Do what you love – sesederhana itu.
Dan setelah drama sakit perut dan mimpi buruk ini berakhir, rasanya sungguh lega dan menyenangkan. Percaya pada diri sendiri dan kemudian lakukan yang terbaik versimu sendiri, dan semuanya akan berakhir dengan indah. Semua ketakutanmu rasanya sudah tak beralasan lagi.
Satu yang paling penting adalah hargai dirimu sendiri, jangan underestimate dengan kemampuan dirimu. Nyatanya kamu bahkan tidak seburuk dari apa yang selama ini kamu bayangkan. Seminar proposal bahkan diakhiri dengan gemuruh tepuk tangan dan serangkaian pujian.
Dan satu hal yang wajib untuk disyukuri adalah menjadi salah satu dari 20 besar mahasiswa yang LULUS ujian komprehensif. Apakah ini tidak cukup untuk menaikkan “harga” mu? Dan jika selama ini kamu sering mengeluhkan deretan angka dalam transkrip nilaimu, coba fikirkan lagi!  Berada di atas rata-rata angkatan bukankah angka yang sudah cukup “aman” untuk sekedar pengkauan diri sebagai mahasiswa jurusan nomor 1 di IPB?
Jadi, kesimpulannya adalah : Just be your self-because everybody else are ready taken. Dan jangan lupa bersyukur!

With love,

Pemilik NRP F24120059