Showing posts with label BERBAGI PENDAPAT. Show all posts
Showing posts with label BERBAGI PENDAPAT. Show all posts

Saturday, 12 May 2018

BUKU, JENDELA ILMU TANPA BATAS


Data dari UNESCO (2012) menyebutkan bahwa presetase minat baca anak Indonesia sebesar 0.001 %, yang artinya dari 1.000 anak bangsa, hanya satu orang yang senang membaca.

Beberapa hari yang lalu saya menulis fakta tersebut di Instagram story dengan latar berupa foto rak buku di salah satu kelas di SDN 02 Tirtayasa Banten yang kondisinya memprihatinkan, ya jumlah bukunya bisa dihitung jari dan kondisinya sebagian besar sudah tidak bersampul dan telah berubah warna kertasnya, raknya pun sudah rapuh, hmm mungkin sudah uzur usianya.

Rak buku di salah satu kelas di SDN Tirtayasa 2 Serang Banten

Dan setelah itu, berdatanganlah beberapa DM (Direct Massage) ke instagram saya, sebagian besar berkomentar seperti ini :

Ah kayaknya salah deh cha! Itu UNESCO ngambil datanya dari mana? Yakin udah mewakili kondisi satu negara?
Anak-anak Indonesia suka baca kok cha! Anak Milenial mah bacanya udah digital sekarang, tuh buktinya hobi bacain IG story kaya gini, postingan akun lambe-lambean bahkan mantengin kolom komentar IG artis buat bacain nyinyiran dan komen julid dari netijen. Haha *ketawa jahat ; ini sindiran ya :(

Nah karena menarik, akhirnya saya kepo dong. Mulai baca-baca artikel dan referensi untuk cari tahu lebih tentang apasih minat baca itu? Dan bagimana kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan? Apakah benar anak Indonesia (termasuk saya) tidak suka membaca?

Jadi yang akan dibahas ditulisan ini, beberapa bersumber dari artikel dan tulisan orang yang saya baca di internet (saya tidak copy-paste, hanya membaca dan mencari informasi), hasil diskusi dengan beberapa teman yang memang berkompeten dalam bidang ini, serta dari pengalaman yang saya peroleh selama ini. Ya pengalaman selama beberapa kali ikut kegiatan volunteering di daerah-daerah marjinal dan pinggiran Ibu kota ini.

Pertama, data UNESCO tersebut memang dipublikasikan pada tahun 2012, semoga masih relevan dengan kondisi saat ini tahun 2018. Beberapa sumber lain juga menyebutkan hal yang sama, salah satunya menyebutkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 64 dari 65 negara untuk kemampuan di bidang matematika, IPA dan kemampuan membacanya. Ya, jadi secara garis kesimpulannya masih sama, bahwa minat baca anak Indonesia memang rendah.  

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya terlebih dahulu kita cari tau apa sih minat baca itu dan bagaimana cara mengkurnya. Jadi, Minat baca adalah kesukaan/kegemaran untuk membaca. Beberapa sumber menyebutkan bahwa minat baca suatu negara dapat dilihat dari jumlah penjualan bukunya. Sumber lain menyebutkan bahwa, minat baca seseorang dapat dilihat dari jumlah buku yang dibaca dalam jangka waktu tertentu. Atau jika dalam suatu sekolah/institusi pendidikan dapat dilihat dari jumlah kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah.

Data dari Perpustakaan Nasional tahun 2017, menyebutkan bahwa frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya 3-4 kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya 5-9 buku per tahun.

Minat baca akan berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan suatu bangsa. Minat baca juga erat huungannya dengan tingkat indeks kualitas Sumber Daya Manusia ( Human Development Index). Karena dengan membaca merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menambah pengetahuan, sikap dan ketrampilan kita. Kepoin mantan juga perlu baca kan? Hehe  Dan apabila minat membaca rendah, maka cenderung akan muncul generasi yang “minta disuapin”.

Mereka yang apa-apa ditanyakan, minta dibuatkan tutorial. Ini banyak kita temukan ketika bersosial media, salah satu contohnya adalah di kolom komentar seorang selebgram ; “Kak itu dimana beli bajunya, harganya berapa?” sedangkan dipostingannya sudah jelas dia menulis dimana dia membeli baju dan tag akun olshop yang jualnya, Jadi apsih susahnya membaca caption atau kalau kurang jelas ya tinggal klik  akun olshopnya dan lihat diketerangan produk. Padahal di era segampang hari ini, apasih yang nggak bisa kita cari di google?

Seorang teman yang berprofesi sebagai psikolog pernah mengatakan bahwa, minat baca itu adalah sesuatu yang “abstrak” yang penukurannya tidak semudah dilihat dari berapa banyak buku yang dia baca, tapi juga dapat diukur dari pengetahuan yang dimiliki. Saya sering menemui anak-anak SMP-SMA yang bahkan tidak tau siapa nama-nama presiden Indonesia dari pertama hingga sekarang. *menangis*

Data-data tersebut yang digunakan untuk mengukur minat baca (reading score) hingga memunculkan angka yang UNESCO sebutkan itu. Sekarang pertanyaannya, apakah data tersebut mewakili kondisi yang sebenarnya terjadi di Indonesia? Jawabannya, Iya. Secara statistik data tersebut mewakili kondisi satu negara.

Ah kayaknya enggak deh cha! Perasaan anak-anak disini (Jakarta) pada suka baca deh, perpustakaan juga rame Pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan semacam itu, dan saya pun setuju. Tapi ini lah kenyataannya. Meskipun saya yakin ada banyak faktor “x” yang menyebabkan angka minat baca di Indonesia begitu rendah. Tapi memang kenyataanya segawat darurat ini kondisi literasi di Indonesia.


Kemudian, menjawab pertanyaan kedua. Apakah minat baca hanya diukur dari kegiatan membaca buku (fisik) saja? Bagaimanakah dengan era digital yang sekarang serba non-fisik, misalnya e-book?

Untuk kriteria “bahan bacaan” yang digunakan oleh UNESCO hingga menghasilkan data 0.01% ini saya belum mendapatkan sumber jawabannya. Apakah hanya buku dalam bentuk cetak saja ataukah dalam bentuk yang lain. Tapi menurut saya pribadi, membaca disini bukan hanya buku cetak ya, tapi juga segala bentuk bahan bacaan yang lain, seperti e-book, artikel, jurnal online, berita online dan akun lambe-lambean yang dapat memberikan kita pengetahuan tentang suatu hal.

Nah, kemudian muncul pertanyaan lagi “Kenapa minat baca anak di Indonesia rendah? Kira-kira apa penyebabnya?’’ Jadi, berdasarkan pengalaman saya pribadi, rendahnya minat baca anak-anak di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor “x”. Salah satunya adalah sulitnya akses terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Bagi anak-anak yang berasal dari golongan ekonomi rendah, anak-anak marjinal/jalanan dan pedesaan serta mereka yang tinggal di pelosok negeri, buku itu menjadi barang yang “mahal”. Selain harganya yang relaif  mahal, ketersediaannya juga tebatas. Bagaimana bisa suka membaca, jika yang dibaca saja tidak ada? Atau kalaupun ada, kualitas bahan bacaannya tidak sesuai. Misalnya hanya tersedia buku paket pelajaran SMA sedangkan anak-anak mayoritas masih SD, tidak adanya bahan bacaan yang menarik (buku aktifitas, yang banyak gambarnya dll) juga jumlah bukunya yang terbatas.

Selain itu, budaya membaca yang belum banyak dikenalkan di lingkungan keluarga juga menjadi salah satu penyebabnya. Selama ini budaya tutur/lisan seperti mendongeng lah yang lebih banyak diwariskan dari generasi ke generasi. Hal lain juga disebabkan oleh pertimbangan ekonomi, beberapa orang tu menganggap “mahal” untuk membelikan buku bagi anaknya. Dan karena anak adalah peniru yang ulang, maka jika orang tuanya saja tidak suka membaca, tidak ada tumpukan buku dirumahnya, tidak ada aktivitas membaca cerita bersama, ya bagaimana anak-anak akan suka membaca?

Selain itu sistem pembelajaran yang ada di sekolah  masih cenderung pasif, atau ‘menyuapi’ murid juga akan menyebabkan rendahnya minat baca. Karena murid-murid tidak terbiasa mencari sendiri jawaban  atas rasa keingin tauannya. Selain itu karena adanya tontonan di TV dan games HP yang lebih menarik, sehingga anak-anak akan lebih senang bermain daipada membaca buku. Karena membaca dianggap aktifitas yang membosankan dan tidak seru.

Jadi apasih yang bisa kita lakukan untuk meningkakan minat baca kita? Dimulai dari diri sendiri ya. Salah satunya dengan membuat Reading Record (RR) yang dapat digunakan untuk mengukur kegemaran membaca seseorang, yaitu sebuah catatan yang berisi informasi tentang judul buku dan jumlah halaman yang dapat kita baca dalam kurun waktu tertentu. Apasih kegunaannya?

Sebagai record kita, juga sebagai motivasi untuk meningkatkan jumlah bacaan, pemetaan jenis bacaan yang disukai, serta meningkatkan kemampuan apresiasi terhadap suatu karya/bacaan. Jadi kita kan tau mana bacaan yang berbobot dan mana yang tidak. Kemampuan ini akan menjadi penting, terutama di era digital seperti sekarang ini untuk ‘menyaring’ informasi yang masuk, agar tidak termakan oleh hoax dan informasi-informasi yang tidak dapat diperangungjawabkan kebenarannya.

Jika ini sudah bisa kita terapkan untuk kita sendiri, tidak ada salahnya kita mencoba untuk anak-anak sekolah atau rumbel di sekitar kita loh! Dan kabar bahagianya, Buku Berkaki sudah mencoba menerapkan ini “Tabungan Bacaan Buki” di 10 rumbel binaannya. Jadi selain membantu menyediakan bahan bacaan yang berkualitas, Buki juga mencoba untuk mengukur minat baca adik-adiknya. Semoga langkah kecil ini akan terus berjalan. Dan semoga data yang diperoleh bisa lebih mewakili kondisi di lapangan, mungkin bisa dijadikan sebagai Grand Desain (percontohan) untuk menghitung angka minat baca anak Indonesia secara nyata.

Mengutip tagline Buku Berkaki : When a book walks, a dream works

Semoga, lembaran-lembaran buku yang sarat akan ilmu pengetahuan ini tidak ditinggalkan oleh pembacanya. Aamiin 

Thursday, 21 December 2017

The Millenials 2.0 : Let's See How to Survive at VUCA era

Hari sabtu 16 Desember kemarin saya mengikuti acara yang keren banget, acara yang diadakan oleh ESQ Business School bertempat di Gedung Pusat Indosat Jakarta Pusat ini bertajuk The Millenials 2.0 : Let’s See How to Survive at VUCA era and prepare yourself for 2018.

(google.com)


Tuh dari judulnya aja udah keren dan kekinian bangetkan? Hehe Ditambah lagi narasumber yang akan sharing adalah orang-orang keren yang selama ini cuman bisa saya lihat dari instagram. Pokonya, mereka ini adalah ‘idola’ nya para Milenial lah. Ada Kak Marchella foundernya Generasi 90an, Pak Aryo CEO nya THE BODY SHOP Indonesia, Mas Billy Boen Foundernya Young On Top (YOT), Pak Fajrin dari Bukalapak, Kak Atina-Intan dari VANILLA Hijab, Kak Tasya dan Kak Haykal Kamil dari Meccanism. Lengkap banget, Alhamdulillah.

Oya sebelumnya, semua sudah tau kan apa yang dimaksud dengan era VUCA yang sudah didepan mata ini? Hmm.. kalau belum tau apa yg akan kita hadapi, rasanya kok kurang nendang aja ya kalo kita langsung ngomongin masalah strategi, apa yg harus kita persiapkan untuk menghadapinya? Oke, saya coba memberikan sedikit gambaran ya apa itu VUCA era. Penjelasan ini saya kutip dari sambutan ibu Illah Saillah, artikel aslinya bisa dilihat disini

Jadi, VUCA adalah singkatan dari V (Volatility), U (Uncertainly), C (Complexity) dan A (Ambiguity). Yaitu era dimana terjadinya perubahan dinamika yang sangat cepat dalam berbagai hal, sosial, ekonomi hingga politik (volatility), serta sulitnya memprediksi isu atau peristiwa yang saat ini terjadi (uncertainly) dengan keadaan yang sangat kompleks karena banyaknya ha-hal yang sangat sulit untuk diselesaikan (complexity) serta sebuah keadaan yang terasa mengambang dan kejelasan yang masih dipertanyakan (ambiguity). Duh kok agak ‘serem’ ya? he

Nah, sedikit banyak udah ada gambaran ya bagaimana era yang akan kita hadapi didepan nanti? Jadi, dalam acara hari ini orang-orang keren yang sudah saya sebutkan di atas  tersebut akan sharing tentang pengalaman hidupnya, karyanya, dan berbagi ilmu apa yang bisa kita persiapkan untuk menghadapi VUCA era yang kelihatannya ‘serem’ itu. Tapi ini bukan acara motivasi ya hehe. Jadi, kalau kata mas Billy, motivasi itu berasal dari dalam diri kita sendiri bukan dari quote motivator. Sedangkan mereka yang akan sharing ini hanya mencoba untuk menginspirasi. Jadi beda ya? Kita bisa terinspirasi dari orang lain tapi harus termotivasi dari dalam diri kita sendiri.Oke!

Semua narasumbernya bener-bener menginspirasi, mulai dari cerita mba Marchella tentang IPK nya yang cuman 1.7, tentang gimana orang-orang bahkan dosennya sendiri gak “nganggep” keberadaannya. Sharing dari Pak Aryo tentang value yang tetap dipegang THE BODY SHOP sampai sekarang, dan satu kalimat yang paling nancep buat saya adalah : Bukan keserakahan semata tapi harus memberi manfat yang baik untuk orang disekitar kita, dengan tagline Planet, People, Profit. Cerita hidup Mas Billy yang super keren, dengan karir yang sangat gemilang diusia yang masih sangat muda. Tapi kemudian beliau berani mengambil keputusan penting, berganti haluan hanya karena email dari seorang anak kurang mampu yang bahkan beliau sama sekali tidak mengenalnya.

Dan yang paling menyenangkan bagi saya pribadi adalah kesempatan untuk melihat dan mendengarkan cerita langsung dari Kak Atina dan Kak Intan yang punya Vanilla Hijab, brand yang sudah saya ikuti sejak lama. Alhamdulillah, diberikan kesempatan untuk bertanya oleh moderator. Dan melihat bagaimana mereka benar-benar menjalankan prinsip manajemen sedekah dalam bisnisnya. Tentang cintanya kepada orang tua dan impian mereka untuk membangun rumah di syurga, subhanallah! “Mengejar dunia boleh, tapi jangan mendominasi nanti jadi lupa diri”, speechless asli

Oke kembali ke poin yang ingin saya bahas ya, jadi saya mencoba merangkum poin-poin penting yang disampaikan oleh semua narasumber tentang bagaimana cara kita menghadapi VUCA era, apa yang harus kita persiapkan?

1.   1. Kenalan dengan diri sendiri


Berdialog dengan diri sendiri (https://www.vebma.com/music/5-lagu-yang-pas-untuk-menemani-senja/24931)

yuk kenalan dengan diri sendiri, Bagaimana caranya?

Pertama, coba renungkan lagi dan temukan jawaban ‘apa tujuan hidup kita?’
Jika sudah tau apa tujuannya, kemudian apa yang harus kita lakukan untuk mencapainya?

Kedua, apa passion kita? Passion 
Kenapa harus tau passion, karena dengan passion tersebut merupakan jalan yang bisa kita lakukan untuk mencapai tujuan kita tersebut. Lakukanlah sesuai dengan passion, karena perjalanan kedepan nanti pasti tidak akan selalu mudah, ada naik dan turunnya, dan ketika melakukannya sesuai passion, maka hal tersebut akan terasa lebih mudah karena kita menjalaninya dengan cinta

2.   2. Personal branding
Percaya diri (https://www.freepik.es/foto-gratis/nino-celebrando_912646.htm)
Jika kita sudah mengenal siapa diri kita, mau jadi apa kita, pertama kita harus percaya dengan diri kita sendiri. Bagaimana orang lain akan percaya kepada kita, jika kita sendiri tidak percaya dengan diri kita. Tidak semua orang harus jadi entrepreneur kok, jalani sesuai dengan jalan kita sendiri. Tidak perlu terlalu memikirkan dan membandingkan dengan yang lain, yang paling penting adalah jadilah sukses di jalanmu. Kenapa harus sukses? Karena jika kita sukses kita bisa menginspirasi orang lain. Eh tapi sukses itu utuh waktu ya butuh proses, so Take your time. Satu lagi, standard sukses masing-masing orang itu berbeda-beda ya.

3.   3. Integritas dan kerja keras
Bersemangat  (SolusiSehatku.com)

Integritas itu apasih? Gampangnya adalah, apa yang kita ‘pegang’ bagaimana kita baik ketika dilihat orang lain ataupun tidak. Jadi kalau masih ngambil hak orang lain, namanya gak punya integritas loh ya hehe. Kaya yang habis nabrak tiang itu misalnya, Duh nggak keren banget ya milenials! Hehe. Kenapa harus kerja keras? Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dan kesuksesan itu perlu diperjuangkan.

4.   4. Sukses Bersama
Bersinergi (https://wownita.blogspot.co.id/2011/02/aktivitas-penambah-rasa-percaya-diri.html)

Artinya kita harus menanamkan prinsip bahwa kita tidak boleh hanya sukses sendiri, tapi juga harus sukses bersama. Saling bersinergi. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan manajemen sedekah atau berbagi. Bisa dengan bekerjasama, memberdayakan orang lain, dalam bidang apapun itu. Kenapa harus berbagi? Karena jika sukses nya hanya sendiri rasanya akan ‘hambar’ akan ada rongga yang masih terasa kosong di dalam hati kita. *Eaa...
Boleh saja kita punya cita-cita untuk kaya, tapi dengan catatan “Kita harus kaya agar kita bisa berbagi lebih banyak dengan yang lain”

Kira-kira 4 poin penting itulah yang dapat kita terapkan untuk menghadapi VUCA era, dalam bidang apapun itu baik profesional maupun entrepreneur. Jika ada yang ingin menambahkan, boleh banget loh! Semoga bermanfat J

---

Oya, satu lagi nih quote favorit dari VANILLA HIJAB :
“Allah tak pernah janjikan langit selalu biru, jalan hidup tanpa bat, matahari tanpa hujan, kebahagiaan tanpa kesedihan, sukses tanpa perjuangan. Tapi Allah janjikan kemudahan bersama kesulitan, rahmat dalam ujian, ganjaran buat kesabaran, keteguhan dalam perjuangan. Bukankah indahnya pelangi baru kita rasakan setelah turunnya hujan”

(via achmadlutfi) 

Thursday, 16 November 2017

Hal yang harus dihindari saat menulis CV (Curiculum Vitae)

Tanpa bermaksud menggurui, saya menulis ulasan ini berdasarkan pengalaman saya ketika membuat CV dan hasil review dari beberapa CV pelamar untuk posisi Quality Assurance/Quality Control Staff di salah satu perusahaan makanan tempat saya bekerja.

Tidak kurang dari 30 CV dan surat lamaran dari berbagai pelamar yang saya baca. Semuanya ditulis oleh pelamar lulusan dari perguruan tinggi ternama di indonesia, mayoritas memang fresh graduate tapi tidak sedikit pelamar yang sudah berpengalaman.

Sumber : https://it.dreamstime.com/illustrazione-di-stock-riassunto-di-concetto-del-cv-con-la-foto-documenti-image72894851


Berikut beberapa hal yang seharusnya dapat dihindari  ketika kita menulis CV (Curiculum Vitae) :

1.  Kesalahan penulisan nama dan alamat perusahaan, serta posisi yang hendak dilamar pada surat lamaran.
Sepertinya tidak mungkin ya kesalahan seperti ini akan terjadi? Tapi hal ini memang saya temui ketika mereview CV pelamar yang masuk. Menurut saya, kemungkinan kesalahan ini terjadi karena ketika kita hendak melamar di beberapa perusahaan sekaligus, kita  hanya meng-copy-paste dan kemudian klik forward email tersebut, tanpa melakukan pengecekan  ulang terkait isinya. Jadi sebaiknya jangan malas untuk mereview CV yang telah kita tulis, atau jika tidak keberatan mintalah tolong orang lain untuk mereviewnya. Sehingga kesalahan sepele seperti salah tulis alamat atau typo dapat dihindari. Karena menurut saya, dengan CV yang tanpa typo hal tersebut menunjukkan bahwa kita benar-benar berusaha membuat yang terbaik.

2.     Tampilan CV yang terkesan tidak ‘profesional’
Umumnya para pencari kerja akan berlomba-lomba untuk mempercantik tampilan CV nya dengan harapan agar dilirik oleh perusahaan. Untuk beberapa jenis pekerjaan ,CV memang harus di desain dengan layout yang keren, misalnya untuk pekerjaan dalam bidang creative design.
Namun untuk pekerjaan umum, terutama untuk posisi yang saya sebutkan sebelumnya.  Tampilan yang lebih 'sederhana' dengan penggunaan warna dan font huruf yang sesuai justru akan lebih menarik. Saran saya jika memang tidak pandai dalam membuat desain, bisa menggunakan template yang ada di Ms.Word. Simpel dan terlihat profesional, dan yang pasti tidak alay.

3.    Penggunaan bahasa yang tidak konsisten dan tidak baku (tidak sesuai KBBI untuk CV Bahasa Indonesia)
Untuk penggunaan bahasa sebenarnya bebas, namun harus tetap konsisten. Jangan dicampur-campur. Namun, saya pribadi lebih menyarankan untuk menggunakan Bahasa Inggris. Kenapa? Karena dengan menggunakan bahasa Inggris tentu akan lebih memudahkan kita untuk melamar di berbagai perusahaan baik nasional maupun multi-nasional.

4.     Terlalu banyak informasi yang sebenarnya tidak perlu dituliskan dalam CV.
Karena CV baiknya tidak lebih dari 2 halaman, maka saya sarankan untuk menghilangkan bagian-bagian yang kurang penting. Sebagai contoh, untuk riwayat pendidikan cukup dituliskan dari SMA atau bahkan perguruan tingginya saja, tidak perlu dari TK. Karena informasi tersebut tidak urgent untuk diketahui oleh perusahaan dan justru akan menghabisan space kita untuk menulis. Hal ini berlaku juga untuk informasi terkait pengalaman organisasi/kepanitiaan yang kita miliki, tidak harus semuanya, cukup dituliskan yang penting saja.

5.     Informasi pengalaman kerja/organisasi/kepanitiaan yang kurang detail.
Untuk pengalaman kerja baiknya dituliskan juga detail posisi dan apa yang kita kerjakan (jobdesk) dari pekerjaan tersebut. Hal tersebut akan memberikan gambaran kepada recruiter terkait kemampuan dan pengalaman kerja kita sebelumnya. Jika hanya menuliskan posisi serta perusahaan saja, hal tersebut tidak cukup informatif.

Hal yang sama berlaku juga untuk fresh graduate, meskipun belum memiliki pengalaman kerja tidak ada salahnya jika kita menuliskan pengalaman organisasi, internship/magang atau hal lain dengan menyertakan detail apa yang kita kerjakan serta pencapaian yang telah kita lakukan pada bidang tersebut. Untuk pengalaman organisasi/kepanitiaan cukup tuliskan 3-5 saja, yang relevan dengan posisi yang akan kita lamar, tentu pilih kegiatan yang berpengaruh terhadap kita, dimana kita memberikan kontribusi yang nyata untuk kegiatan tesebut. Misalnya, sebagai ketua divisi Bidang Sosial di Himpunan Mahasiswa, kemudian berikan sedikit gambaran tentang peran kita di dalamnya.

6.  Untuk kemampuan (skill) tuliskan dengan skala pengukuran yang jelas dan terukur.
Jangan menuliskan kemampuan yang sebenarnya tidak bisa diukur misalnya, dapat bekerja di bawah tekanan, berkomunikasi dengan baik dll. Apakah bekerja di bawah tekanan dapat diukur? Berkomunikasi yang baik itu seperti apa? Apalagi beberapa orang mencantumkan skala angka pada kemampuan tersebut. Menurut saya, hal tersebut sebaiknya dihindari. Untuk menunjukkan kemampuan (skill) yang kita miliki dapat ditambahkan dengan pencapaian yang telah diterima, misalnya : final project, target pencapaian, pelatihan atau sertifikasi yang telah diikuti, dan berbagai pencapaian yang relevan untuk mendukung kemampuan kita tersebut.

7.  Tambahkan pengalaman dalam kegiatan lain (di luar kampus) yang pernah diikuti, misalnya volunteer atau kegiatan sosial yang lain.
Berikan gambaran tentang kegiatan tersebut serta kontribusi yang kita berikan pada kegiatan tersebut. Meskipun mungkin sebenarnya kegiatan tersebut tidak berhubungan langsung dengan posisi yang akan kita lamar, tetapi pengalaman kegiatan lain ini dapat memberikan gambaran tentang soft skill  dan social skill yang kita miliki. Selain itu, dengan menuliskan hal tersebut akan menunjukkan bagaimana kemampuan kita dalam membagi waktu dan kecakapan hidup yang kita miliki.

8.  Pintar-pintarlah dalam memilih informasi apa yang akan kita tulis di CV. Sesuaikan dengan posisi yang akan dilamar dan kualifikasi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, misalnya kita ingin melamar pekerjaan sebagai Pengajar tentu pengalaman yang seharusnya ditulis adalah pengalaman mengajar, bukan sertifikasi keamanan pangan yang telah diperoleh.

---

Itulah beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan ketika kita menyiapkan sebuah CV. Memang tidak ada jaminan bahwa CV kita pasti akan 'dilirik' langsung oleh perusahaan, tapi bukankah keberhasilan juga perlu dipersiapkan? Salah satu langkah awalnya adalah dengan mempersiapkan CV terbaik, karena CV adalah bentuk representatif dari diri kita sendiri. Melalui CV orang akan mengenal siapa kita.

Tulisan ini adalah opini saya pribadi, dari seorang karyawan biasa yang masa kerjanya tidak lebih dari satu tahun. Semoga melalui tulisan ini dapat memberikan sedikit gambaran untuk teman-teman yang sedang menulis CV. Semoga bermanfaat!