Wednesday, 15 November 2017

Komunitas 1000 Guru Tangerang Selatan : TNG #8 Spesial Anniversary Ke-2 di Kampung Konservasi RIMBUN



Volunteering and its Surprising Benefits

How Giving to Others Makes You Healthier and Happier (https://www.helpguide.org/articles/healthy-living/volunteering-and-its-surprising-benefits.htm)


Adakah yang pernah membaca artikel yang judulnya saya tulis di atas? Sedikit banyak artikel tersebut dapat memberikan gambaran tentang manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan sukarela (relawan) yang kita ikuti. Saya suka sekali dengan tagline yang ditulis pada artikel tersebut, "How giving to others makes you healthier and happier"

Benar sekali, memberi (apapun bentuknya) akan membuat kita lebih bahagia dan sehat tentunya. Saya sendiri sudah merasakan bagaimana manfaat mengikuti kegiatan-kegiataan volunteering, terutama yang berhubungan dengan pendidikan. Dan melalui tulisan ini saya ingin berbagai sedikit cerita ketika saya mengikuti salah satu kegiatan volunteering beberapa minggu yang lalu. Kegiatan ini adalah kegiatan yang banyak diminati oleh anak-anak muda di Indonesia, para generasi melenial, namanya Teaching and Giving #8 Special Anniversary ke-2 Komunitas 1000 Guru Tangerang Selatan yang diadakan pada tanggal 28-29 Oktober 2017 di Kampung Konservasi Rimbun, Tangerang Selatan. 

Bagi yang belum mengetahui apa itu 1000 guru, berikut adalah sedikit informasi yang saya kutip dari website resmi Komunitas 1000 guru https://seribuguru.org/. 

Komunitas 1000 juga mempunyai akun twitter @1000_guru melalui akun tersebut Jemi membagikan potret pendidikan Indonesia dan kegiatan dia mengajar di beberapa sekolah yang kekurangan guru bersama rekan-rekannya. Diluar dugaan kurang dari setahun followers akun @1000_guru sudah mencapai 20.000 akun. Banyak followers @1000_guru yang menanyakan bagaimana caranya agar bisa ikut turut serta mengajar ke daerah Pedalaman. Dari pertanyaan itu tercetus ide buat kegiatan Travelling & teaching  (T&T). Kegiatan ini pertama kali terselenggara ke daerah Muncang, Banten. Di Kegiatan T&T, peserta yang mendaftar bisa menikmati keindahan alam sambil mengajar anak-anak di daerah tersebut

Awalnya saya hanya kepo di akun instagramnya dan beberapa akun 1000 guru regional yang dekat dengan tempat saya tinggal saat ini. Sebelumnya saya pernah berencana untuk ikut kegiatan di regional Bogor, tetapi karena jadwal yang bentrok dengan kerjaan maka saya mengurungkan niat tersebut.  Sempat kecewa, namun kemudian saya memperoleh kesempatan 'kedua' untuk ikut di regional Tangerang Selatan, yeay! 

---

Pagi ini dengan penuh semangat saya berangkat tepat setelah sholat subuh dari kosan untuk mengejar kereta pertama dari Tangerang yaitu jam 05.00. Namun karena jarak tempuh Tangerang (Poris) - Tangsel (Rawa Buntu) yang kurang lebih selama 2 jam apabila ditempuh dengan KRL dan ternyata jarak lokasi kegiatan yang lumayan jauh dari St. Rawa Buntu, alhasil saya sampai di lokasi sekitar jam setengah 8. Telat sih tapi mau gimana lagi :( Ini adalah kali pertama saya mengikuti kegiatan volunteering 1000 guru, awalnya ragu karena sendiri dan tidak kenal dengan siapapun tapi bismillah deh :) 

Kesan pertama saya ketika tiba di lokasi kegiatan adalah senang dan semangat. Kenapa? Karena ternyata tempat kegiatannya memang 'rimbun' seperti pedesaan di tengah kota, rasanya seperti di rumah ini mah hehe. Selain itu melihat adik-adik dari SD 02 Buaran, Pamulang yang bersemangat membuat saya semakin bersemangat untuk bersenang-senang dengan mereka hari ini. Oya, ternyata tidak 'seseram' yang saya bayangkan, kakak-kakak panitia dan volunteer nya ramah-ramah kok, memang baru kenal tapi ngobrolnya nyambung dan rasanya seperti bertemu dengan teman lama. Mungkin karena kita satu frekuensi kali ya? 


Upacara Bendera Memperingati Hari Sumpah Pemuda (Doc : 1000 Guru Tangsel) 

Acara diawali dengan upacara bendera untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini (Sabtu, 28 Oktober 2017). Semua peserta upacara mengikuti jalannya kegiatan dengan khidmat. Rasanya sudah lama sekali saya tidak mengikuti upacara bendera seperti ini. Selain adik-adik dari SD 02 Buaran dan guru-guru pendamping, hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan yang bertindak sebagai pembina upacara sekaligus membuka acara hari ini.  Serta hadir juga pemilik dan pengelola Kampung Konservasi Rimbun yang turut serta mendukung berlangsungnya kegiatan hari ini. Upacara bendera kemudian diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta upacara. 

Foto Bersama (Doc : 1000 Guru Tangsel)

---

Setelah upacara bendera selesai, selanjutnya dilakukan pembagian kelompok untuk adik-adik peserta dan kakak-kakak volunteer. Peserta dibagi menjadi 10 kelompok. Oya, saya masuk di kelompok 3 nih. dan bahagianya saya dipertemukan dengan teman-teman yang keren dan asyik banget.. Hore!

Bersama adik-adik dari kelompok 3 (Doc : 1000 Guru Tangsel)

Kakak-kakak volunteer Kelompok 3 dan 4, asyik banyak teman baru! (Doc : 1000 Guru Tangsel)

Setelah melakukan perkenalan singkat dengan seluruh anggota kelompok dan tidak lupa membagikan name-tag, kegiatan pertama yang akan kami ikuti adalah belajar menanam Kubis (kol). Kubis merupakan salah satu jenis sayuran yang sering kita konsumsi. Kira-kira seperti apa ya proses menanamnya? yuk kita belajar langsung sambil seru-seruan bersama kelompok 3 dan 4!

Penyemaian benih tanaman kubis (Doc : 1000 Guru Tangsel)

Pertama-tama adik-adik diajarkan bagaimana cara pembibitan tanaman kubis. Adik-adik mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Bapak pengurus kebunnya. Setelah mendengarkan penjelasan singkat, adik-adik diajarkan secara langsung cara pembibitannya. Mulai dari menyiapkan wadah (polybag) untuk menanam benih, kemudian mengisi dengan tanah yang telah disiapkan, meletakkan benih di dalamnnya lalu meletakkannya pada tempat yang telah disediakan. Selain itu, adik-adik juga diajarkan bagaimana cara merawat dan menyirami benih tersebut hingga menjadi bibit yang siap untuk dipindahkan ke lahan. 

Pemindahan bibit kubis ke lahan (Doc : 1000 Guru Tangsel)
Setelah bibit kubis siap untuk dipindahkan ke lahan, adik-adik juga diajarkan secara langsung bagaimana cara pemindahannya serta perawatannya hingga panen nanti. Wah seru sekali ya praktik langsung seperti ini, asyik!

Kegiatan menanam bibit tanaman kubis (Doc : 1000 Guru Tangsel)


Selain belajar cara menanam kubis, adik-adik juga diajak melihat langsung bagaimana cara pembuatan pupuk kompos dari sampah organik, disini juga dijelaskan tentang cara memilah jenis-jenis sampah. Wah, belajar langsung di alam memang menyenangkan ya!
Selanjutnya adik-adik akan diajak untuk berkreasi bersama kakak-kakak volunteer membuat berbagai kerajinan tangan. Masing-masing kelompok akan membuat kreasi yang berbeda-beda. Mulai dari Untuk kelompok 3 dan 4 hari ini akan berkreasi membuat dan menghias layang-layang. Berbagai peralatan yang dibutuhkan, seperti kerangka layang-layang, kertas untuk menghias, gunting dan lem telah disiapkan oleh kakak-kakak volunteer. Oya, tidak lupa kita berkreasi sambil menyanyikan lagu layang-layang loh. Hore! 

Kelompok 3 dan 4 membuat dan menghias layang-layang (Doc : 1000 Guru Tangsel) 

Aneka warna layang-layang kreasi kelompok 3 dan 4 (Doc : 1000 Guru Tangsel)

Adik-adik berkreasi dengan membuat berbagai hiasan di layang-layangnya, mulai dari gambar hewan, bunga, pahlawan kesayangan, dan tidak lupa menuliskan nama serta cita-cita mereka di layang-layang tersebut. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, polisi hingga pilot. Wah, semoga dengan kegiatan hari ini dapat memacu semangat belajar adik-adik sehingga semakin semangat untuk menggapi cita-cita mereka. Terbang tinggi setinggi layang-layang yang mengangkasa! 
Oya, kelompok yang lain juga membuat berbagai macam kreasi yang lain, mulai dari menghias dengan cangkang telur, membuat kaos sablon celup, dan lain-lain. 

Asyiknya membuat kaos sablon celup (Doc : 1000 Guru Tangsel)


Setelah selesai berkreasi membuat aneka macam kerajinan, acara kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan dongeng dari Kak Nono. Hari ini kak nono akan menceritakan dongeng tentang kura-kura yang tidak pandai bersyukur. Adik-adik mendengarkan dongeng dengan antusias, eh tapi bukan hanya adik-adik loh yang suka mendengarkan dongeng. Kakak-kakak panitia dan volunteer pun asyik menikmati dongeng dari Kak Nono. 
Mendengarkan dongeng dari Kak Nono (Doc : 1000 Guru Tangsel) 



Dongeng memang salah satu sarana ampuh untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak dengan cara yang sangat menyenangkan. Terimakasih Kak Nono!

Setelah mendengarkan dongeng, adik-adik diajak untuk menulisakan nama dan cita-citanya di pohon harapan. Beragam cita-cita yang dituliskan, Bismillah semoga terwujud ya dik! 

Terimakasih adik-adik hebat untuk pelajaran penting hari ini. Iya, justru kita akan banyak belajar dari mereka tentang makna hidup yang sebenarnya kita cari. Lewat senyum tulus dan ungkapan-ungkapan lugu mereka, kita akan sadar bahwa sebenarnya bahagia itu sederhana. Bahwa sebenarnya ada banyak hal sederhana yang bisa membuat kita tersenyum, sayangnya tanpa kita sadari kehidupan 'orang dewasa' lah yang terlalu banyak embel-embel yang akhirnya justru menutup senyum itu. 


Sayonara adek-adek hebat, sampai ketemu di lain kesempatan! (Doc : 1000 Guru Tangsel) 


---

Kegiatan selanjutnya adalah kegiatan untuk kakak-kakak volunteer dan panitia. Kegiatan dimulai dengan pembagian kelomok dan dilanjutkan dengan mendirikan tenda yang akan digunakan untuk bermalam hari ini. Wah kita bakal tidur ditenda ya malam ini? yeay!

Pendirian tenda (Doc : 1000 Guru Tangsel) 

Acara malam harinya diisi dengan penampilan dari masing-masing kelompok. Dalam waktu yang cukup singkat, semua kelompok sudah mempersiapkan penampilan terbaiknya. Dan untuk kelompok 3 dan 4, kita memilih untuk menampilkan mini drama komedi dengan tema Sumpah Pemuda, dengan pesan yang ingin disampaikan adalah bagaimana wajah pemuda milenial hari ini.  

Kegiatan malam ini dilanjutkan dengan malam-keakraban antar panitia dan volunteer, yang diisi dengan makan malam bersama ala liwetan, kemudian perkenalan dan dilanjutkan dengan tukar-kado. Bahagianya malam minggu kali ini bisa berkumpul dengan orang-orang keren, anak muda yang punya semangat dan ambisi yang besar untuk kemajuan pendidikan di negrinya. Dari sini saya sadar bahwa sebenarnya masih banyak orang-orang baik di dunia ini, meskipun orang bilang dunia sudah semakin edan. Salah satu kalimat yang paling saya ingat adalah, dimanapun tempatnya, apapun nama gerakan atau komunitasnya, selama kita berniat untuk berbuat baik, berbagi dengan sesama, maka sudah pasti kita akan bertemu dengan orang-orang baik pula. ya semacam lu lagi lu lagi ketemunya !

Lomba antar kelompok. Semangat!! (Doc : 1000 Guru Tangsel)
Esok harinya, setelah sholat subuh acara kembali dilanjutkan dengan olahraga bersama. Dipimpin oleh para instruktur senam yang aduhai, senam pagi ini membuat semua peserta berkeringat dan bahagia. Udara segar khas pedesaan begitu terasa pagi ini, ah bahagianya! 

Setelah berolah raga, kemudian dilanjutkan dengan permainan antar kelompok. Seperti biasa, main air dan basah-basahan tentu tidak ketinggalan. Asli seru banget, kalah menang tidak masalah, yang penting semua bahagia. Yeay!

Main air yuk! (Doc : 1000 Guru Tangsel) 
Setelah bersih-bersih dan makan siang, acara ditutup dengan pembagian sertifikat dan foto bersama. Dua hari yang sangat berkesan, meskipun ini adalah pengalaman pertama ikut kegiatan 1000 guru.  Sekali lagi, selamat ulang tahun 1000 Guru Tangsel, Salam lima jari, Tangsel Selalu Di Hati. Next kegiatan semoga di lolos-in ya! hehe


---

Diakhir tulisan ini, saya akan mengulas sedikit tentang tempat kegiatan yang saya ikuti selama 2 hari ini, yaitu Kampung Konservasi Rimbun. Meskipun masih relatif baru, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi, terutama untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Selain dapat belajar bercocok tanam, mulai dari tanaman kol, wortel, hingga tomat, di tempat ini juga disedikan berbagai macam permainan untuk anak-anak. Selain itu fasilitas yang tersedia juga cukup lengkap, terdapat panggung utama, area kantin, aula, mushola, toilet dan kamar mandi, lapangan untuk kegiatan outdoor  serta arena perkemahan. Selain itu juga terdapat perpustakaan yang sangat menarik karena berada di luar ruangan dengan pemandangan alam terbuka. Membaca akan terasa lebih mengasyikan dengan ditemani kicauan burung dan gemericik suara air yang mengalir di sungai.


Kampung Konservasi Rimbun ini awalnya adalah lahan milik pribadi yang kemudian difungsikan sebagai tempat wisata alam berbasis edukasi. Rimbun terletak di daerah Ciater, Serpong, Tangsel Untuk lengkapnya dapat dilihat pada tautan maps berikut : https://goo.gl/maps/b1FJqHQETh82. Akses menuju tempat ini sangat mudah dijangkau. Untuk warga Jabodetabek dapat dengan mudah diakses menggunakan KRL. Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Rawa Buntu, yang kemudian dapat melanjutkan perjalanan dengan angkutan online


Area bermain anak (Doc : 1000 Guru Tnagsel) 

Kampung konservasi ini juga telah diresmikan sebagai English Village oleh Walikota Tangerang Selatan pada tanggal 23 Oktober 2017 yang lalu. Harapannya kedepan akan seperti Kampung Inggris yang di Pare, Kediri. Selain itu, berbagai jenis kegiatan juga sering dilaksanakan di tempat ini, seperti lomba mewarnai, gathering untuk siswa TK dan lain-lain.

Wah, asyik banget ya ada tempat wisata yang edukatif dan ramah anak seperti ini di dekat Ibukota. Yuk ayah-bunda ajak buah hati belajar sambil bermain di Rimbun!

Friday, 10 November 2017

Bercermin - cerita dibalik saya hari ini (Fase 1)

"Every strunggle you had in your life shaped you into the person you are today. Be thankful for the hard times they can only make you stronger" - Jemma Voice (@womantalk)
---

Setelah secara tidak sengaja membaca quote tersebut, tiba-tiba saya teringat salah satu pertanyaan saat interview kerja di sebuah perusahaan swasta nasional yang pernah saya ikuti buberapa bulan yang lalu, kurang lebih isi pertanyaannya seperti ini ; 
"Tolong jelaskan 3 fase hidup yang paling berpengaruh dalam hidup anda? Fase hidup yang membentuk anda menjadi anda yang seperti hari ini"

Awalnya saya diam, mencoba berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Dalam hati saya berbicara, "eh iya ya.. fase hidup yang mana nih yang paling berpengaruh ngebentuk oca seperti yang hari ini?" 
Satu dari sekian banyak fase hidup yang paling berpengaruh dalam 23 tahun usia saya adalah fase setelah lulus SMA. Kenapa? Karena langkah yang kita ambil setelah masa sekolah ini adalah langkah awal yang akan menentukan arah hidup kita selanjutnya. Beberapa pertanyaan umum yang kerap kita tanyakan pada diri kita sendiri setelah lulus adalah mau kuliah atau kerja? Kalau kuliah, kuliah dimana? Jurusan apa? masuknya lewat jalur apa, undangan atau tulis? dll  

Purnawiyata SMA Negeri 1 Ponorogo - 3 Juni 2012
Seingat saya foto ini diambil setelah prosesi Purnawiyata (pelepasan siswa kelas XII), difoto ini dari kiri ke kanan yaitu Hanjar, saya, Erva dan Fina. Pada prosesi hari itu sebenarnya saya sudah tau mau kemana arah saya setelah ini, iya saat itu hasil SNMPTN Undangan sudah diumumkan. Jadi saat prosesi pemanggilan satu per satu untuk pengalungan medali ke atas panggung, ketika nama saya dipanggil kira-kira seperti ini : "Rosalia Riski Ananda Putri Bpk Khudori, diterima di Iunstitut Pertanian Bogor (IPB) pada program studi Ilmu dan Teknologi Pangan" 

Stadium General Mahasiswa Baru IPB 49 di GWW - 15 Juni 2012
  1. Diterima sebagai mahasiswa Teknologi Pangan IPB melalui jalur SBMPTN Undangan dengan pendanaan penuh dari Beasiswa Bidikmisi Dikti.
Fase hidup ini benar-benar berpengaruh besar dalah hidup saya, pertama kalinya merantau jauh dari rumah (antar provinsi loh ini hehe), pertama kali ketemu orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, pertama kalinya harus tinggal di asrama berempat dengan orang-orang yang sama sekali belum pernah dikenal sebelumnya, pertama kali hidup di daerah dengan adat dan budaya yang berbeda (Jawa ke Sunda, dari desa di kota kecil hijrah ke desa di kota besar hehe), pertama kali belajar dengan sistem yang berbeda, jumlah orang dalam satu kelasnya, cara dosen menerangkan materi, tugas, praktikum dan pertama kali-pertama kali yang lainnya. 

Sebagian teman asrama di A3 Lorong 7 - KRB 8 November 2012

MK Sosiologi Q-09 bersama Temen Lorong dan Matrikulasi Terbaik - 13 Oktober 2017

Beradaptasi dengan semua perbedaan yang ada membuat saya bisa menemukan banyak makna dan tujuan hidup yang mungkin tidak pernah saya fikirkan sebelumnya. Bagaimana semua keadaan ini kemudian bisa merubah cara saya memandang dunia dan bagaimana saya menyikapi sebuah masalah.

Merantau membuat saya "dipaksa" untuk menjadi pribadi yang mandiri, tangguh dan tidak mudah menyerah pada keadaan. 

Mandiri untuk mengurusi semua keperluan diri, mandiri mengatur keuangan, mandiri untuk bisa mengambil keputusan sendiri dan mandiri untuk bisa menanggung semua konsekuensi yang akan timbul dari keputusan tersebut.

Menjadi tangguh untuk bisa survive di tanah rantau yang bahkan rasa masakannya saja tidak cocok dilidah saya. Tangguh untuk mengendalikan homesick syndrome yang bahkan bisa menyerang kapan saja, apalagi saat hujan mengguyur kota ini hehe. Tangguh untuk bisa bersaing dengan teman-teman keren di sini, dan tangguh untuk tetap berjuang mengejar mimpi yang sudah jauh-jauh dikobarkan dari jarak ratusan km disana. 

Menjadi tidak mudah menyerah dengan semua keadaan yang berbeda ini. Jika dulu makanan selalu tersedia, kini bahkan membeli makan saja jaraknya jauh dari asrama. Jika dulu tidur di kamar yang luas sendirian kini harus berbagi kamar dengan orang asing. Jika dulu dengan mudah memperoleh ketenangan saat belajar, kini harus menerima perbedaan gaya belajar dari teman-teman sekamar. Jika dulu mudah memperoleh nilai 90, kini harus berusaha lebih untuk sampai pada angka "aman".

Reyog Tri-U Manggolo Putro IPB - 7 Desember 2012

Para (pejuang) cantik - 6 April 2015 

Selain itu, fase ini juga mengajarkan saya tentang arti keluarga di tanah rantau. Merekalah orang-orang terdekat yang ada untuk saya disini. Merekalah pejuang yang sama-sama berjuang untuk mengejar mimpi-mimpi yang telah dipijarkan dari jarak ratusan km. Merekalah pengingat dan penyemangat terbaik saya, seburuk apapun hari-hari saya di tanah rantau, tertawa bersama mereka adalah salah satu obat terampuh pendongkrak mood saya

Lewat mereka, saya tau bahwa mimpi-mimpi itu bisa diperjuangkan bersama, berjalan beriringan, tanpa perlu berlomba untuk menjatuhkan mimpi yang lain. 

Dan, melalui fase ini akhirnya semesta mengajarkan kepada saya bahwa mimpi itu harus diperjuangkan, bahwa akan selalu ada jalan untuk mimpi-mimpi yang terus dikobarkan.

Apapun impian kita, tugas kita yang utama adalah memantaskan diri untuk impian tersebut. Sebab jika kita sudah memperbaiki diri, dan memantaskan diri, maka Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk kita. Meskipun terkadang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tapi percayalah, hadiah dari Tuhan untuk kerja keras kita selalu yang terbaik
(Tulisan dari Hipwee) 

---

Jadi inilah jawaban yang saya berikan untuk pertanyaan dari interviewer tersebut. Ini baru satu dari 3 fase yang diminta, dua fase berikutnya menyusul di tulisan selanjutnya ya. Semoga bermanfaat :) 

Tuesday, 7 November 2017

#buki6erbagi Kebahagiaan di Kampung 99 Pepohonan


#buki6erbagi adalah tema yang dipilih dalam rangkaian perayaan ulang tahun Buku Berkaki yang ke-6 tahun ini. 
Buku Berkaki adalah sebuah komunitas sosial non-profit yang berfokus pada penyediaan bahan bacaan yang berkualitas untuk anak-anak di daerah marjinal dan daerah tertinggal di Indonesia. 

Komunitas ini mengusung konsep 'Perpustakaan Keliling', yaitu akan meminjamkan buku-buku koleksinya dari satu tempat binaan (lapak pemulung, panti asuhan, rumbel, rumah singgah) ke tempat binaan yang lain secara rutin melalui kegiatan yang diberi nama Visit Buki. 

Selain meminjamkan buku, kakak krucil (sebutan untuk volunteer Buki) juga akan mengajak adik-adik untuk membaca bersama kemudian Buki juga memperkenalkan "Tabungan Buki", yaitu catatan dan ringkasan dari buku yang telah dibaca oleh adik-adik. Lewat Tabungan Buki dapat dilihat adik-adik yang rajin membaca, yaitu ditandai dengan banyaknya jumlah ceklist pada kertas tabungannya. 

Nah, sebagai hadiah untuk 6 adik-adik yang paling rajin membaca dari masing-masing rumbel, akan diajak untuk 'liburan' dan bersenang-senang bersama kakak krucil buki pada puncak rangkaian perayaan ulang tahunnya.

---

Minggu (15 Okt 2017) kemarin, dalam puncak perayaan ulang tahun buki yang diadakan di Kampung 99 Pepohonan, #buki6erbagi kebahagiaan dengan adik-adik terpilih dari 10 Rumbel binaan Buku Berkaki, yaitu dengan total 60 adik-adik, 10 pendamping dan 50 kakak krucil.

Kebahagiaan seperti apa ya yang akan kita dapatkan selama seharian ini? 


Pemeriksaan kesehatan (doc : Buku Berkaki)
Kegiatan pertama yang dilakukan setelah adik-adik dan kakak pendamping dari masing-masing Rumbel sampai di lokasi adalah absensi, pembagian name tag dan kemudian dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh tim medis dari Kampung 99 Pepohonan. Wah adik-adiknya semangat dan antusias loh ngelihatin kakak-kakak medisnya pakai stetoskop hehe 

Setelah itu acara dilanjutkan dengan penyuluhan bahaya narkoba dari BNN Depok dan Geranat (Gerakan Nasional Anti Narkoba), penyuluhan tersebut bertujuan untuk memberikan informasi kepada adik-adik dan para pendamping tentang bahaya narkoba yang selalu mengintai mereka. Terlebih lagi, sebagian besar adik-adik tumbuh di lingkungan marhinal Ibukota yang menjadi sasaran empuk pengedaran dan penyalahgunaan narkoba dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. 

Setelah penyuluhan, kemudian dilanjutkan dengan pembagian kelompok berdasarkan nama-nama hewan yang ada di name-tag adik-adik. Tujuan dari pembagian kelompok ini adalah untuk memberikan kesempatan kepada adik-adik untuk berkenalan dan bersosialisasi dengan teman-teman dari rumbel yang berbeda. 
Pembagian kelompok ini semakin riuh karena untuk menemukan anggota kelompoknya, hanya diperbolehkan menggunakan suara binatang tersebut. Misalnya untuk kelompok sapi hanya boleh bersuara MOOOOooo... dan lain-lain, wah seru nya!

6 kelompok sudah terbentuk dengan pendamping dari masing-masing rumbel dan kakak krucil telah siap untuk bersenang-senang hari ini. YEAY!

Pos pertama adalah memanen sayur kangkung. Eits.. tapi untuk mencapai ladang kangkungnya, kita harus menyeberangi jempatan bambu terlebih dahulu loh. Hiii serem, tapi adik-adiknya pemberani ya. Wah Keren!! 
Wah adiknya berani ya menyeberangi jembatan bambu (doc : Buku Berkaki) 
Diseberang sana ternyata ladang kangkungnya sudah siap dipanen, dan hasil panennya boleh dibawa pulang loh. Asyik, bisa buat ibu dirumah nih buat bikin tumis sayur. Nyam..nyammm... 
Selain ada penjelasan langsung dari bapak petaninya tentang cara menanam, merawat dan memanen kangkung, di pos ini adik-adik juga diberikan tantangan berupa games dari kakak Krucil. 
Setiap kelompok harus menyebutkan nama-nama sayur, kelompok yang paling banyak menyebutkan dan benar akan memperoleh poin terbesar yang nanti akan ada hadiah di akhir acara. Wah seru banget ya, belajar sambil bermain di kladang seperti ini. 

Memanen kangkung (doc : Buku Berkaki)

Setelah istirahat makan siang dan sholat, kegiatan dilanjutkan ke Pos Kedua yaitu, melihat pengolahan susu menjadi berbagai produk olahannya, seperti susu pateurisasi, yogurt dan keju. 
Proses pengolahan susu dijelaskan langsung oleh Ibu pengurusnya, namun sayangnya kita tidak boleh masuk ke ruang produksi karena ruangannya harus bersih dan hanya petugas saja yang boleh masuk. Tapi adik-adik sangat antusias sekali mendengarkan semua penjelasan dari ibu pengurusnya, apalagi ketika ibu bilang kalau sudah disiapkan susu pasteurisasi gratis untuk adik-adik semuanya. Asyiikkkk!!! 

Penjelasan proses pengolahan susu pasteurisasi (doc : Buku Berkaki)

Meskipun sudah siang ternyata adik-adik masih tetap bersemangat, wah hebat ya. Yuk Kita lanjut!
Sampai nih di Pos Ketiga, adik-adik diajak memberi makan ikan yang ada di kolam. "Wah ikannya banyak banget ya kak!"


Memberi makan ikan (Doc : Buku Berkaki)
Nah setelah puas memberi makan ikan, pos selanjutnya adalah Pos Keempat yaitu, Memberi makan Kambing dan Sapi. "Wah, sapinya gede banget kak!", "Oh jadi sapi itu gak cuman ada pas hari raya kurban aja ya kak?" 
Kira-kira itulah beberapa pertanyaan yang pertama terlontar dari adik-adik ketika melihat sapi, melihat raut wajah adik-adik yang sedikit takut tapi penasaran seru banget ternyata hehe 

Haloo sapi ...makan yang banyak ya (Doc : Buku Berkaki)

Ngasih makan sapi dan kambing (doc : Buku Berkaki) 
Wah seru banget ya ternyata melihat hewan-hewan ini secara langsung. Adik-adiknya juga antusias sekali meskipun capek karena cuaca yang panas hari ini. 

Dongeng dari Kado Taman Jagakarsa (Doc : Buku Berkaki)

Acara kemudian dilanjutkan dengan mendengarkan dongeng dari Kado Taman Jagakarsa, wah pendongeng favorit loh Bunda Sofie dan kakak-kakak dari Kado Taman Jagakarsa ini. Tapi sebelumnya, kita minum yang seger-seger dulu ya, apalagi kalau bukan es krim. Yeay!! 
Dongeng dari bunda Sofie memang seru banget, adik-adik sampai keasyikan mendengarkan dan ikut bernyanyi dan menari bersama. 

Main games (doc : Buku Berkaki) 

Nyusun puzzle Sapi (doc : buku berkaki)

Setelah mendengarkan dongeng, acara dilanjutkan dengan games kelompok. Ada dua games puzzle, yang pertama adalah Puzzle Sapi karena tadi kita sudah ngasih makan sapi dan melihat langsung proses pengolahan susu sapi. Sedangan puzzle yang kedua adalah, Puzzle Buku yang harus disusun agar dapat menjawab pertanyaan yang ada di dalam buku yang dimaksud. Kelompok tercepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan kan mendapatkan poin tertinggi. Poin ini kemudian diakumulasi dengan poin-poin pada pos-pos sebelumnya, nah ada 3 orang kelompok dengan poin tertinggi yang akan mendapat hadiahnya.Meskipun hari sudah sore, namun adik-adik tetap semangat loh!

Acara kemudian ditutup dengan minum susu bareng dan tak lupa berfoto bersama, serta pembagian bingkisan kepada adik-adik. Wah, meskipun hari ini capek tapi seru banget kegiatannya. Semoga dengan kegiatan pengenalan alam (tumbuhan dan hewan) secara langsung kepada adik-adik akan membawa menambah semangat belajar mereka. Terimakasih adik-adik dan kakak-kakak pendamping dan krucil, sampai jumpa di visit buki ya!

Sekali lagi, selamat ulang tahun Buku Berkaki yang ke-6 #buki6erbagi. Semoga bisa terus berbagi kebaikan ke seluruh Indonesia!

when a book walks, a dream works  (Doc : Buku Berkaki) 

Sunday, 22 October 2017

Find your passion (?)


google.co.id

Sebagai manusia (beranjak) dewasa, pasti kita akan dihadapkan pada banyak persimpangan jalan yang mengharuskan kita memilih pilihan kita sendiri. Sebagai contoh, ketika kita akan memutuskan untuk masuk SMA atau SMK, IPA atau IPS, kuliah di universitas A atau B, jurusan X atau Y, dan pilihan-pilihan yang lain. Sedikit banyak lingkungan memang akan berpengaruh terhadap pilihan kita tersebut, tapi pada hakikatnya bukankah kita yang akan menjalani dan menyelesaikan pilihan itu nantinya? Banyak orang bilang, “pilihlah jurusan yang sesuai dengan passion kamu”. Atau “enak kalo kerjanya sesuai sama passion” dan kalimat-kalimat yang lain yang selalu menbawa-bawa kata “Passion”.
Jadi apasih “Passion” itu?
Passion (n) : gairah atau semangat (enthusiasm).
Adalah sesuatu yang kita tidak pernah bosan untuk melakukannya. Dan ketika kita melakukan hal tersebut akan membuat kita lupa dengan hal yang lain.
Tapi percaya gak percaya, sebenarnya masih banyak orang yang tidak tau apa passion nya. Jangankan remaja yang sedang beranjak dewasa, tidak sedikit orang-orang dewasa yang sebenarnya belum tau apa yang menjadi passion dalam hidupnya. Hingga akhirnya, yaudah jalanin aja dulu. Benar atau tidak?

Dan salah satu orang (beranjak) dewasa yang sampai pada fase bekerja masih belum menemukan passion-nya adalah saya. Saya adalah lulusan Teknologi Pangan (Food Technology, salah satu jurusan yang sedang tren dikalangan anak muda) dari universitas ternama, bisa dibilang jurusan Food Tech terbaik lah di Indonesia. Dan sekarang saya bekerja sebagai Quality Assurance (apa ya kerjaanya? Googling aja banyak kok penjelasannya hehe) di salah satu perusahaan Food and Baverages nasional yang 90% pasarnya adalah ekspor. Enak kan kelihatannya? Bisa dapat kerja yang sesuai dengan jurusannya, sementara diluar sana masih banyak yang mengeluh dan dipandang sebelah mata hanya karena bekerja pada bidang yang melenceng jauh dari apa yang iya pelajari selama kuliah.

Tapi tetap saja saya merasa belum klik di hati, Kenapa ya? Bukan, bukan berarti saya tidak menyukai dengan bidang pekerjaan saya yang (Alhamdulillah) masih sesuai dengan ilmu yang saya sudah payah dapatkan dari kampus. Bukan itu poin yang ingin saya bahas dalam tulisan ini, tetapi saya merasa belum menemukan “dunia” saya disini, belum merasa kerja itu menyatu dengan kita, mengalir begitu saja tanpa beban dan waktu seolah-olah berjalan dengan cepat.

Kemudian saya ingat, dari dulu saya suka dengan dongeng, bermain peran, bercerita, suka dengan anak-kecil, isu-isu pendidikan di daerah tertinggal, mengajar anak-anak dan berbagai dunia sosial yang lain. Bahkan saya masih ingat, saya selalu bercita-cita bisa punya perpustakaan sendiri dirumah saya dan bisa mengajak teman-teman membaca di bawah pohon mangga di depan rumah, kaena saya tau bagaimana susahnya akses bahan bacaan dulu ketika saya SD. Segitu pelosokkah rumah saya? Ayo tebak dimana kampung halaman saya? 

Mungkin jika dulu saya tidak naif, harusnya saya mengambil kuliah Jurusan Psikologi saja atau minimal pendidikan lah agar bisa jadi guru. Tapi tidak, dulu saya menganggap menjadi guru tidak ada masa depannya. Dan Psikologi? Apa ya, nyembuhin orang sakit kejiwaan?

Dan singkat cerita akhirnya saya terjerumus di jalan yang benar memang (Alhamdulillah), ya meskipun dengan susah payah akhirnya bisa “keluar”

Tapi semua akan kembali, bahwa sudah ada sutradara terhebat dan alur cerita terbaik. Tidak ada fase hidup yang sia-sia, semua itu adalah potongan puzzle yang harus kita kumpukan.
Jadi, apa yang bisa kita lakukan jika sudah terlanjur basah terjerembab pada bidang (kuliah) yang ternyata ridak sesuai dengan passion kita? Haruskan kita menyerah dan mencari-cari alasan untuk “lari” dari tanggung jawab atas pilihan yang telah kita buat tersebut? Tentu tidak!

Kerjakan yang terbaik dari versimu, anggap saja kamu keluar dari zona nyamanmu untuk men challenge dirimu. Apakah saya bisa survive dalam kondisi lingkungan yang membuat saya tidak nyaman? Tuntaskan apa yang sudah kamu pilih, usahakan semaksimal mungkin hingga versi terbaikmu, tidak harus sama dengan orang lain, tidak yang yang salah jika kita berbeda, toh Tuhan telah menciptakan masing-masing dari kita secara spesial tentu kita juga harus menjalani hidup ini dengan cara kita sendiri kan bukan dengan cara si A atau si B.

Disamping itu, lakukan hal-hal yang kamu senangi, hal-hal yang mendekatkan kamu dengan passion mu tersebut. Terus perbaiki, tambah koneksi, upgrade diri
Nanti pada saatnya, pada momen yang tepat yang telah ditentukan, kamu akan mendapatkan jalan untuk passion mu itu. Sungguh karena rencana-Nya yang terbaik, ketika kita sudah mampu momentum itu pasti akan datang. Kapan dan bagaimana caranya? Bukan kapasitas kita untuk memikirkannya, cukup dengan terus bergerak. 
Karena layaknya orang naik sepedah, bukankah dia akan tetap bertahan jika dia terus bergerak?

Sunday, 10 September 2017

Kenalan sama diri sendiri yuk!

istockphoto.com

Berdasarkan pengalaman pribadi saya selama ini, salah satu pertanyaan yang sering ditanyakan oleh pewawancara ketika kita sedang menjalani tahap interview (baik interview pekerjaan maupun organisasi/kepanitiaan ketika di kampus) adalah “Apa kelebihan dan kekurangan anda?”

Sekilas pertanyaan tersebut memang terdengar sangat sederhana dan mudah untuk dijawab. Benar tidak? Namun, bagi saya pribadi pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang paling sulit untuk saja jawab. Mengapa demikian?

Alasan pertama, sejujurnya saya memang tidak tahu apa kelebihan dan kekurangan saya. #sedihya? Dan alasan yang lain adalah saya selalu merasa tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain (terlebih lagi dengan lingkungan kampus dan jurusan saya yang isinya orang-orang keren semua, dan saya?) hingga tanpa saya sadari hal tersebut lah yang justru membuat saya minder, yang akhirnya membuat saya lebih terfokus hanya pada banyaknya kekurangan yang saya miliki dan tidak menyadari bahwa pada diri saya terdapat potensi-potensi kelebihan yang harusnya dapat saya kembangkan secara maksimal.

Hingga kemudian pada suatu hari, saya sampai pada fase ''harus mencari pekerjaan" yang artinya saya akan melewati tahap interview dengan HRD maupun user bahkan jajaran direksi perusahaan nantinya. Interview sebenarnya adalah ajang “menjual-diri” agar kita dilirik oleh perusahaan tersebut. 

Beruntungnya, meskipun dengan minimnya prestasi (yang saat itu saya anggap sebagai kelebihan atau nilai jual saya) saya menyadari bahwa saya harus mampu menjual diri dengan keadaan yang saya miliki sekarang. Salah satu yang kemudian saya lakukan adalah berusaha mencari jawaban atas pertanyaan sederhana yang paling sering ditanyakan pada saat interview, yaitu “Apa kelebihan dan kekurangan anda?”

Berbagai macam artikel terkait tips dan trik interview sudah saya baca, dan kemudian bertemu dengan solusi terbaik yaitu saya harus mengenali diri saya lebih dalam lagi, salah satunya terkait tipe kepribadian yang kemudian akan dapat menjelaskan apa kekurangan dan kelebihan saya. Mengenali diri sendiri sebenarnya juga dapat dilakukan dengan meminta pendapat orang lain tentang kita. Sebisa mungkin kita mengumpulkan jawaban sebanyak-banyaknya, karena sejatinya secara alamiah kita akan lebih mudah mencari kekurangan dan kelebihan orang lain daripada kelebihan dan kekurangan kita sendiri. Setuju? Hehe. 

Selain itu dapat dilakukan dengan mengikuti test MBTI (baik secara online maupun offline, pengalaman saya test yang pertama dengan bantuan buku panduan dari Wardah, terimakasih wardah hehe). Pertanyaan selanjutnya adalah : Apa itu MBTI-test?

Mengutip dari (https://mbti.anthonykusuma.com/), Myers-Birggs Type Indicator (MBTI) adalah psikotes yang dirancang untuk mengukur preferensi psikologis seseorang dalam melihat dunia dan membuat keputusan. MBTI didasari pada jenis dan preferensi kepribadian dari Carl Gustav Jung, yang menulis Psychological Types pada tahun 1921 MBTI dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers pada sejak 1940. Psikotes ini dirancang untuk mengukur kecerdasan individu, bakat, dan tipe kepribadian seseorang. Tes ini juga dipakai untuk mengetahui karakter kepribadian karyawan perusahaan agar dapat ditempatkan pada bidang-bidang yang membuat potensi karyawan tersebut optimal.

Dalam Tes MBTI ini, ada 4 dimensi kecenderungan sifat dasar manusia
1. Dimensi pemusatan perhatian: Introvert (I) vs. Ekstrovert (E)
2. Dimensi memahami informasi dari luar : Sensing (S) vs. Intuition (N)
3. Dimensi menarik kesimpulan & keputusan : Thinking (T) vs. Feeling (F)
4. Dimensi pola hidup : Judging (J) vs. Perceiving (P)


Hasil test tersebut memang tidak 100% benar/sesuai, namun menurut saya pribadi lebih dari 80% hasil terst tersebut memang sesuai dengan kepribadian saya, “ih ini gue banget emang” kira-kira seperti itulah reaksi saya hehe. Silahkan dicoba sendiri ya.

Nah, berdasarkan hasil test tersebut menunjukkan bahwa saya adalah Tipe ISFJ (Introvert-Sensing-Feeling-Judging), Apasih ISFJ itu? Menurut penjelasan dari hasil test tersebut , Tipe ISFJ adalah dia yang “Tenang, ramah, bertanggung jawab, dan teliti. Berkomitmen dan bersungguh-sungguh dalam memenuhi kewajibannya. Cermat, telaten, dan akurat. Loyal, baik hati, perhatian dan selalu mengingat secara spesifik tentang orang-orang yang penting bagi mereka, peduli dengan perasaan orang lain. Berupaya untuk menciptakan lingkungan yang tertib dan harmonis di tempat kerja maupun di rumah”. Dari hasil test tersebut saya juga memperoleh beberapa saran perbaikan (kekurangan dari tipe ISFJ). 

Jadi, dari hasil test iseng tersebut saya bisa tau apa kelebihan (ciri-ciri) dan kekurangan (saran perbaikan) dari diri saya sendiri. Sehingga, dari hasil tersebut saya bisa menyiapkan jawaban dari pertanyaan yang sebelumnya ditanyakan oleh interviewer. 

Untuk kelebihan pasti tidak sulit kan menyampaikannya? Cukup disampaikan dengan bahasa yang positif dan coba menjelaskan disertai dengan bukti yang nyata, agar terkesannatural dan tidak seperti sedang membual. Tetapi bagiamana dengan kekurangan yang kita miliki? Saran dari saya, sampaikan kekurangan tersebut tetapi dengan bahasa yang positif. 

Sebagai contoh dalam sebuah interview saya menjelaskan kekurangan saya adalah :  “saya adalah orang yang tidak bisa bekerja secara multitasking,  namun hal tersebut dapat saya atasi dengan membuat daftar prioritas pekerjaan yang harus saya selesaikan berdasarkan DL ataupun tingkat kesulitannya. Dengan adanya list tersebut saya mampu menyelesaikan satu per satu pekerjaan secara maksimal dan selesai tepat pada waktunya. Sehingga saya fokus menyelesaikan satu per satu, dan tidak mencampur adukkan pekerjaan tersebut. Namun, konsekuensinya saya harus komitmen dan konsisten dengan daftar yang say buat tersebut”. Dengan bahasa yang positif akan menunjukkan bahwa kita menghargai diri kita sendiri dan yakin bahwa kita bisa menjadi versi terbaik dari diri kita. 

Dan jangan lupa, kita sebagai manusia sudah pasti diciptakan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang salah dengan tipe kepribadian kita karena setiap manusia itu diciptakan dengan kode unik masing-masing. Jangan hanya fokus membandingkan diri dengan pencapaian orang lain dan justru meratapi kekurangan yang kita miliki. Memang bagus jika hal tersebut kemudian bisa kita dijadikan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Namun kenyataanya tidak jarang justru membuat diri kita terlalu minder dan bahkan kemudian menjadi underestimate dengan kemampuan sendiri. 

Cukup fokus pada kelebihan yang kita miliki, jadikan itu sebagai potensi yang dapat terus kita kembangkan secara maksimal. Dan jangan berhenti untuk melakukan upgrade diri terutama dengan kekurangan-kekurangan yang kita miliki, misal “saya merasa kurang dalam kemampuan speaking bahasa inggris. Solusinya adalah, ya belajar dan jangan malas untuk berlatih”

Kesimpulaanya adalah jangan lupa bersyukur, terus upgrade diri, jadilah versi terbaikmu lebih dan lebih baik lagi setiap harinya. Oya satu lagi, jangan  terlalu khawatir dengan kekurangan yang kita miliki karena pada saatnya nanti Tuhan akan mempertemukan kita dengan ‘dia’ yang akan menyempurkanakan kekurangan-kekurangan kita tersebut kok.

#eaa baper kan hihi 

Thursday, 12 January 2017

Terimakasih Cinta Pertama

Karena hakikatnya cinta itu mendamaikan, Terima kasih Cinta Pertama. Rasanya tidak akan pernah ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Kau akan selalu menempati ruang spesial disana, selamanya. Masih jelas di ingatanku, Bagaimana kau selalu berusaha memenuhi segala keinginanku, menjadikanku nomor satu dan membuatkan menjadi yang paling beruntung di dunia ini. Bagaimana tidak, kau bahkan tak sedikitpun mengeluh ketika aku merajuk, mempermasalahkan hal-hal sepele. Meminta ini dan itu. Dan hari ini aku ingin menitipkan rindu lewat ketikan jemariku.

“Sepenggal kisah yang selalu mengingatkanku tentang cinta dan kasih sayangmu adalah perjalanan kita waktu itu. Iya, waktu itu bioskop sedang ramai oleh ribuan penonton Film 5 cm. Salah satu film yang efeknya begitu bombastis. Bagaimana tidak, berkat akting 5 sahabat itu travelling dan Mendaki gunung menjadi tren dan keharusan khususnya di kalangan anak muda masa kini. Mereka berlomba-lomba menaklukkan Puncak Gunung Mahameru dan gunung-gunung yang lain demi sebuah eksistensi semu. Dan aku menjadi salah salah satu anak muda kekinian yang terkena dampak demam itu.
Masih jelas ku ingat bagaimana rewelnya aku saat itu. Setiap hari hanya merajuk ingin bisa berselfie di puncak gunung. Hingga kemudian, Rasa sayangmu yang begitu besarlah yang akhirnya mengantarkan kita berdua menunju salah satu puncak gunung di Pulau Jawa. Karena menurutmu masih belum ada yang pantas kau percayai untuk menjagaku. Hingga dengan bangganya kau sendiri yang menemaniku, berusaha mewujudkan salah satu mimpi kecilku. Hanya berdua, aku dan kamu. Terdengar sederhana, namun karena hal sepele itu ku tau seberapa besar arti   kebahagiaanku dihidupmu.


Tuhan Maha Baik, telah memilihkanmu sebagai pelindungku. Karena bersamamu tak pernah sedikitpun aku merasa takut. Terimakasih untuk kekuatan dan keberanian yang kau ajarkan kepadaku. Terimaksih untuk cinta yang tak pernah terungkapkan. Terimaksih untuk kasih sayang yang tulus tanpa pamrih.  Dan terimakasih karena telah berusaha menjadi yang terbaik untukkmu. Karena ku tau, dimanapun kau berada saat ini tak pernah sekalipun lupa kau sebut namaku dalam setiap bait doamu. 

Friday, 27 May 2016

Cerita di Balik ‘Pahit’nya Kenangan Masa Kecil


Jamu merupakan bagian dari obat tradisional yang digunakan secara turun-temurun oleh masyarakat di Indonesia serta dipercayai manfaatnya terhadap kesehatan manusia. Dengan melihat khasiat dan manfaat fungsionalnya, maka tidak heran jika jamu banyak dikembangkan menjadi minuman fungsional. Selain itu adanya Gerakan Bugar dengan Jamu yang digagas oleh Menkes RI memberikan peluang berkembangnya industri jamu di Indonesia. Target yang ingin dicapai melalui gerakan tersebut adalah menghasilkan produk jamu yang aman, bermutu, bermanfaat, membudayakan minum jamu, nilai tambah dan meningkatkan daya saing serta kesejahteraan pelaku usaha jamu dan masyarakat Indonesia.
Sedangkan bagi saya pribadi, sepertinya jamu terasa tidak asing di telinga. Tumbuh dan besar dengan budaya Jawa yang kental dengan tradisi mengkonsumsi jamu secara rutin. Saya mulai mengenal jamu bahkan semenjak belum mengerti apa itu jamu. Tradisi di keluarga saya memang akan mengenalkan jamu kepada anaknya semenjak dini. Diawali dari jaman minum jamu masih menggunakan cara yang sangat tidak masuk akal yaitu jamu cekok-an. Bagaimana cara mengkonsumsinya? Racikan jamu diletakkan dalam selembar kain dan kemudian diperaskan secara paksa kepada bayi dan anak-anak, tentu diiringi dengan tangisan dan pemberontakan. Dengan cara seperti itu, tidak heran jika hanya satu kata yang kemudian menempel tentang jamu di masa kecil, yaitu jamu itu -pahit- dan tidak enak.
Meskipun memiliki kenangan yang ‘buruk’ tentang jamu. Namun hal tersebut tidak akan menyurutkan tekat orang tua saya untuk menghentikan konsumsi jamu pada anak-anaknya. Berbagai trik akan dilakukan agar saya meminumnya. Dan salah satu cara paling ampuh adalah dengan menggunakan ‘legen’ , yaitu air gula yang digunakan untuk menetralisir rasa pahit dari jamu tersebut. Sehingga jangan heran jika hal yang justru digemari oleh anak-anak ketika meminum jamu adalah ‘legen’-nya. Hal tersebut masih berlaku bagi saya hingga saat ini.
Menjadi asisten peneliti dalam bidang jamu merupakan salah satu kesempatan emas dalam hidup saya. Bagaimana tidak? memperoleh kesempatan tinggal selama 10 hari untuk belajar dan mengenal lebih dekat dengan jamu secara langsung di kampung jamu. Kmpung Jamu? Iya. Teretak di Desa Nguter Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. Daerah ini merupakan sentra produksi jamu terbesar di Indonesia, sekaligus pusat perdagangan jamu terbesar se-Asia Tenggara. Melihat dan belajar langsung tentang pembuatan dan pemasaran jamu secara langsung dengan ahlinya. Mengenal berbagai bahan yang digunakan untuk membuat racikan jamu, belajar tentang bermacam-macam jenis jamu, hingga berbagai nama dagang jamu yang ‘menggelitik’. Dan kemudian saya sadar bahwa jamu bukan hanya tentang menjaga dapur tetap mengebul, tapi lebih dari itu jamu merupakan tradisi yang mereka jaga dari jaman ke jaman.
Sedangkan apabila dikaji secara ilmiah, jamu merupakan pangan fungsional yang sedang naik daun dan sangat potensial untuk dikembangkan saat ini. Berdasarkan data BPOM RI, di Indonesia saat ini tercatat sekitar 1.400 pelaku industri obat tradisional. Sekitar 1.380 merupakan industri kecil dan hanya 80 yang sudah masuk skala industri relatif modern. Sementara itu, dari sekitar 1.380 pelaku industri tersebut hanya 9 unit yang sudah memiliki sertifikat CPOTB (Cara Pengolahan Obat Tradisional yang Baik). Untuk itu perlu tangan-tangan modern dari manusia-manusia terdidik negeri ini untuk ‘mengangkat’ nilai warisan leluhur bangsa ini.
---

SELAMAT HARI JAMU NASIONAL – Terimakasih telah memberikan memori tentang rasa pahit, sehingga sekarang saya merasa lebih siap ketika perjalanan hidup terasa tidak manis

Tuesday, 3 May 2016

Ibu – ‘Gate Keeper’ Keamanan Pangan Keluarga

Laporan tahunan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2011 menyebutkan bahwa penyebab KLB Keracunan Pangan terbesar di Indonesia adalah pangan olahan rumah tangga yaitu sebanyak 58 kejadian (45.31%). Sehingga kesadaran dan perilaku ibu rumah tangga sebagai gate keeper (penyaring informasi) dalam menjaga keamanan pangan keluarga menjadi sangat penting. Sebab resiko keamanan pangan terhadap kesehatan konsumen semakin tinggi ketika konsumen kurang memiliki pengetahuan tentang pengolahan pangan yang baik sehingga konsumen terbiasa dengan cara pengolahan pangan yang salah (Maimun 2013).
Paragraf tersebut adalah cuplikan latar belakang yang saya gunakan dalam penyusunan proposal penelitian tugas akhir sebagai syarat lulus bagi seorang sarjana. Memang terlihat sepele dan sedikit menyimpang dari ‘kebiasaan’ topik penelitian-penelitian yang biasanya dipilih oleh mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan. Saya memang telah mendapatkan semua teori tentang keamanan pangan dan seluk-beluk industri pangan lainnya. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah ilmu yang saya peroleh selama hampir empat tahun tersebut hanya sebatas teori saja bukan praktik langsung di masyarakat. Dan inilah liku-liku cerita yang akan mengiringi perjalanan panjang tugas akhir saya.
Minimnya pengalaman saya dalam penelitian di bidang sosial kemasyarakatan, serta keterbatasan dalam hal kemampuan bahasa Sunda membuat awal-awal perjalanan di Desa Puraseda terasa berat. Bagaimana tidak, satu-satunya pengalaman saya terjun langsung di masyarakat adalah ketika ‘menyelundup’ pada program KKN-P (Kuliah Kerja Nyata Profesi) dari Fakultas sebelah. Iya hanya menyelundup, karena di departemen (jurusan) saya memang tidak terdapat program KKN-P tersebut. Sedangkan untuk kemampuan Bahasa Sunda saya? Jangan ditanya.
Desa Puraseda Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor. Ada yang sudah pernah mendengarnya atau bahkan sudah pernah berkunjung kesana? Desa ini terletak di ‘pelosok’ Kecamatan Leuwiliang, yaitu dengan jarak tempuh kurang lebih satu jam dari Kampus IPB Dramaga dengan menggunakan kendaraan pribadi. Bentangan sawah yang menghijau, suara aliran sungai yang menenangkan, serta gunung-gunung yang berbaris rapih merupakan gambaran keindahan dari desa ini. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai petani dan tidak sedikit pemudanya yang mengadu nasib sebagai perantau di Ibu Kota. Sedangkan para ibu merupakan ibu rumah tangga biasa dengan rata-rata pendidikan hanya lulus Sekolah Dasar (SD).
Seminggu setelah kegiatan intervensi (penyuluhan) tentang Keamanan Pangan Keluarga, saya datang kembali untuk melaksanakan kegiatan monitoring atau fasilitasi. Dengan cara berkunjung dari satu rumah responen ke responden yang lain yang berjumlah tidak kurang dari 30 keluarga. Bertamu seperti biasa, melihat kegiatan para Ibu dalam menyiapkan makanan untuk keluarganya sembari mengobrol. Dan hal yang membuat saya tercengan adalah ketika saya bertanya :
“Gimana Teh, penyuluhan kemarin ada manfaatnya apa tidak? Apa yang disampein diterapin dirumah gak Teh?
Kebanyakan mereka menjawab seperti ini (tentu dalam bahasa Indonesia yang banyak bercampur dengan Bahasa Sunda).
“Sekarang Ibu teh udah gak beli telur yang retak lagi neng meskipun lebih murah, takut”, jawab salah seorang responden. Sedangkan responden yang lain menjawab seperti ini,
 ”Iya sekarang udah gak sayang-sayang lagi Neng buang makanan kalau itu udah kadaluarsa, Ibu lihat tanggalnya dulu”.
Ada juga yang menjawab seperti ini , “Saya udah nyiapin sabun cuci tangan di kamar mandi biar semua pada cuci tangan neng kalo habis buang air sama pas mau makan”.
Sederhana memang, tapi rasanya bahagia mendengar jawaban mereka. Bahagia karena ilmu yang disampaikan bermanfaat untuk mereka. Bahagia karena saya merasa ikut andil memberi sedikit manfaat untuk orang lain, jadi ilmu yang saya dapatkan selama ini bukan hanya sekedar deretan huruf mutu di atas kertas transkrip saja. Lebih dari itu, ilmu akan berguna jika mampu memberi manfaat untuk banyak orang. 


(bersambung)